Senin, 25 Agustus 2014

Pemuda Dalam Islam

Pemuda Dalam Islam
Pada masa awal perjuangan Rasulullah, beliau ditemani oleh para sahabat yang masih muda, tahan banting, siap susah, dan siap menderita. Itulah yang Indonesia perlukan, pemuda yang mau mengisi kemerdekaan bukan hanya sekedar menikmati kemerdekaan. Bagaimanapun kemerdekaan Negara kita ini dicapai dengan keringat, air mata, darah dan nyawa. Bukan “sim salabim abra kadabra” kita merdeka dan juga bukan kadonya belanda atau pemberian jepang tetapi keringat, air mata, darah dan nyawa lah pengorbanannya dari orang-orang tua kita yang mereka sendiri tidak sempat manikmati kemerdekaan ini. Untuk kita mereka berurai airmata, mereka mengalirkan darah, dan untuk kita mereka korbankan nyawa yang Cuma satu-satunya tanpa mereka sempat menikmati kemerdekaan ini. Sungguh kurang ajar betul kalau darah suci mereka kita kotori dengan perbuatan yang tercela di atas republic tercinta ini.
Sebagai anak muda generasi penerus bangsa, kudu tahan banting, siap mental, sanggup mengatasi segala situasi, tidak lentur dan luntur. Ibarat nya ikan hidup, ikan yang hidup di laut itu 3 tahun terendam air asin tidak ikut menjadi asin. Tapi begitu dia mati, ikan mati bagai mana keadaan yang ia dapat kalau di diberi garam jadilah ikan asin, dan kalo di beri asam jadilah ikan gulai. Tentu kita tidak ingin jiwanya seperti ikan mati, kalau deket sama ustad bawaannya kalem kaya ustad, deket tukang maksiat ikutan maksiat. Jika jiwanya mati mudah diasem dan digaremi lingkungan, tidak punya kepribadian. Itulah banyak yang terjadi pada pemuda saat ini, ketika ramadhan alim, selesai ramadhan selesailah alimnya.
Kebanyakan pemuda sekarang salah dalam mencari idola akibat dari abad intertain, yang diidolakan adalah pergaulan bebas, berpaikain seenaknnya sendiri dan mengidolakan kepribadian yang rusak. Tanpa ragu kadang-kadang menggunakan lebel agama, nikah di Masjidil Haram pulang dua bulan cerai. Agama hanya dijadikan trend, kalau lagi trend umroh ikutan umroh setelah itu kacau lagi tanpa ada perubahan istilahnya Umroh ToMat (di sana Tobat, begitu pulang kuMat)
Nabi kita Muhammad saw modal utama perjuangannya adalah akhlakul karimah, memperbaiki akhlak dengan akhlak. Selayaknya semboyan menegakkan demokrasi dengan cara yang demokratis. Rasulullah memiliki budi pekerti yang luhur dan dipuji oleh Allah. Dimanapun juga kehancuran suatu bangsa selalu dimulai dengan kehancuran akhlaknya, terutama akhlak generasi mudanya. Generasi dibawah usia 40 tahun yang kesehariannya dilanda gaya hidup hedonis, materialis, bahkan nyaris individualis. Jika tidak ditanami nilai-nilai akhlak akan semakin mengkhawatirkan. Bagaimanapun juga taknologi itu tidak ada yang bahaya, yang bahaya adalah manusianya, tenologi kita perlu tapi tergantung orang yang menggunakannya. Hala ini seperti pisau yang kalo dipegang orang yang beriman paling jauh leher ayam yang dipotong. Tapi kalau yang memegang preman, leher temenya pun ikut dipotong. Pisaunya sama, penggunaanya yang berbeda karena tangan yang memegang berbeda. Sama halnya dengan teknologi yang di gunakan anak tanpa nilai moral, maka teknologi bisa menjadi bom waktu buat kita semua.   
Dalam berjuang rasulullah lebih mengutamakan akhlakul karimah (budi pekerti yang luhur), apalagi disekolah sekarang pendidikan budi pekerti jangan sampai menurun agar sikap anak kepada orang tua atau guru tidak hilang rasa hormat. Karena kehancuran suatu bangsa dimulai dari kehancuran moral, terutama moral generasi mudanya.
Pemuda harus mamapu membangun kebersamaan, sebagaimana rasulullah dalam perjuangannya didampingi oleh berbagai sosok yang mewakili figure social. Kadang pemuda sering merasa superior, merasa hebat sendiri, lalu merasa gak perlu sama yang lain. Kita ini adalah sebuah mata rantai yang berkaitan, sehebat apapun kita tetap merupakan produk masa lalu. Karena itu yang terbaik adalah prinsip pendidikan kita (Ing Ngarso Sun Tuladha Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani/ kalo di depan bisa jadi contoh, kalo ditengah bisa menggugah semangat dan yang dibelakang memberi dukungan) lain halnya dengan mental rusak, kalau di depan dia macet, ditengah yang depan di dorongin yang dibelakang ditendangi dan kalau di belakang dia takut. Jadi dalam konteks situasi sekarang harus mampu menggalang semangat kebersamaan, apalagi menjaga, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan tidak kalah beratnya dengan berjuang merebut kemerdekaan itu sendiri. Diperlukan yang namanya kebersamaan betapa dan siapapun kita tetap memerlukan orang lain. Salah satu cita-cita kemerdekaan itu agar kita satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yang artinya cita-cita untuk kebersamaan, tidak ada orang yang hebat sendiri dalam kerja keras membangun Negara. Untuk kerja yang paling enteng seperti ketawa kita memerlukan orang lain, coba lihat jika ada orang yang ketawa sendirian pasti kita menilai dia sudah tidak waras. Itulah bukti begitu pentingnya orang lain dalam kehidupan kita.
Dalam hal kebersamaan ini dalam masyarakat Indonesia diibaratkan 5 jari yang jika kompak apa saja akan terpegang, seperti menulis akan cepat, tinju bisa, badminton ayo. Itu dapat terjadi jika kita kompak, coba jika tidak kompak makan nasi pakai jempol saja mungki sepiring bisa 3 hari selesainya. 5 jari kita yaitu terdiri dari :
1.      Jempol diibaratkan pemerintah, dan legalitas (kalau sudah ada cap jempol artinya sudah sah) kerja apa saja kalau pemerintah sudah angkat jempol keatas berarti pekerjaan kita disetujui dan bagus tapi jika jempol kebawah pakerjaan kita berakhir karena tidak disetujuinya. Siapkan diri kita dan anak kita menjadi jempol, jadilah pemimpin apapun itu jangan jadi penonton di lapangan sendiri, dan jangan jadi tamu dirumah sendiri. Ini negeri kita, kemerdekaan ditegakkan dengan keringat, air mata, darah dan nyawa orang-orang tua kita.
2.      Telunjuk, digunakan untuk menunjuk diibaratkan orang-orang kaya pemegang modal (owner) untuk menggerakkan roda perekonomian kita. Dimana-mana kalau orang kaya yang nunjuk pasti lancar dengan telunjuknya saja dia bisa memerintahkan apa saja yang ia mau, itulah orang kaya, tapi kalau orang miskin nunjuk-nunjuk ditekuk orang dan gak ada yang dengerin.
3.      Jari tengah, dia selalu netral tidak kekanan dan kekiri menjadai penyeimbang. Ini adalah para penegak hukum milik semua golongan dan milik rakyat selalu ditengah, tidak boleh ikut-ikutan dalam politik. Saat kita main suit maka jari tengah tidak bisa di pakai, karena ia memang tidak boleh ikut main-main, ia adalah penyeimbang.
4.      Jari manis, diibaratkan anak muda, masa muda adalah masa paling manis dalam hidup. Semua harapan adalah milik para anak muda, seperti harapan umat, harapan bangsa, harapan agama, harapan Negara, dan juga harapan pemudi.
5.      Yang terakhir adalah jari kelingking, jari paling kecil diibaratkan kaum perempuan. Walaupun kecil tapi wilayah operasinya luas dimana aja dia bisa masuk. Jempol yang besar hanya bisa dikalahkan dengan kelingking
Generasi yang paling buruk adalah generasi pemalas kalau tampak orang lain lebih hebat dari dia, dia sebutlah kehebatan nenek moyangnya. Sementara generasi yang paling baik adalah generasi yang punya kejayaan masa lalu dan mampu menegakkan kejayaan yang baru untuk dirinya.
Pesan rasulullah umat ku hanya bisa menjadi baik hanya dengan ilmu dan harta artinya dengan pendidikan dan ekonomi. Semoga standar ini menjadi potret untuk para generasi selain ada lab bahasa, lab fiska dan biologi juga ada lab rohani sehingga benar-benar generasi muda iqro’(membaca)nya tidak berpisah dengan bismirobbika (dengan nama tuhanmu), membaca dengan nama tuhan muamalah dengan artian ilmu yang dilandasi dengan keimanan. Jika iqra’ berpisah dengan bismirobbika ia akan liar dan brutal.
Metedologi itu harus sesuai dengan situasi dan kondisi, yang baku adalah tujuan. Cara (metodelogi)

SUMBER: CERAMAH KH ZAINUDDIN MZ (21-September-2010/12 Syawal 1431H)

Rabu, 06 Agustus 2014

ESENSI YANG DICARI

Saya masih berkenyakinan masih banyaknya masyarakat miskin di negeri ini, hal ini dapat dilihat saat pembagian zakat secara langsung dari orang-orang kaya pada saat menjelang Idul fitri atau saat pembagian daging Qurban saat Idul Adha. Banyaknya masyarkat yang dari anak-anak, ibu-ibu, sampai orang tua pun ikut berdesak-desakan walaupun mengorbankan nyawa demi mendapatkan apa yang dibagikan saat itu. Ntah ini fenomena kemiskina atau pemiskinan lantaran hal ini terjadi di negeri yang sangat kaya, negeri ku Indonesia.
Kemiskinan tidak hanya dipahami tiadanya materi seseorang. Semua kemiskinan dapat berupa tiadanya kepedulian sseseorang terhadap orang lain dalam segala konteks yang ia hadapi. Secara materi ia kaya, tapi jika sampai membuatnya hilang kepedulian kepada yang tidak bermateri, maka miskinlah dia. Miskin atau tidaknya seseorang tidak dapat di ukur dari masalah banyaknya materi belaka, namun juga aspek mental, moral dan spiritual.
Tentang pemahaman apa itu kaya dan apa itu miskin, kita menganggap kemiskinan itu identik dengan rakyat  kecil  dan kaya itu rakyat besar itu lantaran kita melihat dari sudut materi. Tetapi kalo dilihat dari sudut mental, moral dan spiritual tidak seperti itu. Bisa saja dia kaya materi tapi tetapi dia sering menipu, menyuap, korupsi, mengambil hak orang, menzalimi orang miskin, memeras dan lain sebagainya. Sesungguhnya ia miskin mental, moral dan spiritual.
Penyakit terbesarnya adalah individualism dan materialism yang menjangkit umat muslim saat ini. Mereka enggan peduli lagi dengan kemiskinan yang ada disekitar mereka. Dan enggan membagikan harta mereka buat orang yang lebih memerlukan. Apalagi saat ramadhan dan menjelang lebaran, sebagian orang yang mampu lebih ikhlas dan redo uangnya dihabiskan untuk membeli petasan, gak tanggung2 mungkin uang yang dikeluarkan untuk membeli petasan besar bisa mencapai100-500 ribu rupiah. Ketimbang harus memberikan uangnya kepada orang miskin disekitar rumahnya, agar mereka dapat membeli daging dan kue sekedarnya pada hari lebaran.
Belum lagi sifat orang-orang kaya yang selalu minta di hormati dari orang yang miskin. Penghormatan yang mereka dapat hanya lantaran setatus sosialnya bukan karena sikap dan perilakunya sehari-hari. Kebanyakan orang kita yang mampu/kaya sering memperlakukan orang miskin secara tidak adil (memperlakukan orang berdasarkan setatus social). Jika orang mampu punya hajatan tugas yang berat, susah nan kotor selalu dilimpahkan kepada orang yang miskin sementara tugas ringan, gamapang nan bersih diserahkan untuk orang2 yang se level dengannya. Perlakuan tidak adil ini juga terjadi saat orang yang bertamu ke rumah orang kaya, jika yang bertamu ini teman bisnis atau pun orang yang sama sama terhormat (menurut mereka) datang dengan mobil, sepatu mengkilap, pake dasi pastilah mereka mempersilahkan masuk dan menyuguhkan air yang menyegargan berseta makanan ringan. Hal ini berbanding terbalik apabila yang bertamu adalah orang miskin, apalagi pengemis dengan sandal jepit, baju kusut, muka kusam, hitam dan acak2an. Jangankan menyuguhkan air atau makanan ringan, mempersilahkan duduk untuk melepaskan lelahnya pun kita enggan, atau berbasa basi menanyakan alamat dia. Mungkin jika rumah orang kaya ini di kelilingi pagar, maka batas masuk orang miskin atau pengemis adalah pagar itu.
Padahal kemiskinan itu bisa diatasi dengan cara jika kita mau menyisihkan sedikit saja dari harta mereka-mereka yang mampu. Missal dalam suatu desa memiliki kepala keluarga(KK) berjumlah 500 dan jumlah orang yang kaya atau mampu kataknlah berjumlah 300 KK dan tiap harinya orang yang kaya tersebut mensedekahkan 1000 aja, maka total perhari dana yang terkumpul adalah 300000 rupiah dan  sebulan 9 juta rupiah (uang tersebut harus di pegang dan di kelolah oleh orang atau lembaga yang berkompeten). Jumlah yang lumayan besar untuk nantinya di buat modal usaha bagi para tetangga yang miskin bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan dari dana tersebut. Namun bagi sebagian orang kaya enggan melakukan sedekah lantaran dikhawatirkan menghabiskan harta yang mereka cari dengan keringan dan kerja keras. Dimana pemerintah dan para wakil rakyat? Percayalah.…. Pemerintah dan para wakil teralu sibuk mengurusi masalah yang mereka buat sendiri.
Sifat individualis dan materialis ini sudah terlihat di desa penulis sendiri dimana ada warga baru, baru beberapa bulan. Ia seorang janda yang sudah lumayan tua, berbadan kurus dan tiap hari mencari botol minuman bekas dari satu desa kedesa lainnya dengan sepeda mini sebagai transportasinya. Ia tinggal di rumah papan yang masih di bawah sederhana besama anaknya laki-laki ± 20 tahunan tanpa kamar mandi.  Ya tanpa kamar mandi, bayangkan jika rumah kita tanpa kamar mandi, dimana kita akan mandi? Mencuci? Buang air?. Tiap harinya mereka melakukan aktifitas tersebut di sebuah parit (sungai kecil). Lantaran masyarakat yang tidak peduli akan lingkungannya parit itu menjadi tempat pembuangan sampah masyarakat sekitar otomatis parit itu menjadi dangkal dan jorok. Jadilah ibu janda ini mencari tempat yang bisa digunakan untuk mencuci pakaian dan mandi ke hulu parit itu. Setiap harinya Ia menempuh jarak ± 500 meter dari rumah bersama anaknya membawa pakain kotor dengan sepeda mereka ketempat pencucian kemudian pulang membawa pakaian basah dan dua ember air untuk kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya ini tak perlu terjadi, jika masyarakat mau menyisihkan sedikti uang mereka sebagaimana mereka ikhlas dan redo membakarnya dengan membeli petasan atau mercon hingga ratusan ribu rupiah. Hanya 1000 saja dari mereka yang kaya kemudian dengan uang ini masyarakat membangun sebuah kamar mandi buat ibu janda ini. Pastilah ibu ini tidak akan kesulitan lagi dan mungkin hal-hal besar lainnya akan tercipta seperti tak ada lagi kemiskinan di suatu desa, kecamatan, kota, provinsi dan tak ada lagi kemiskinan di Indonesia.
Lihatlah, rasakanlah dan sentuhlah orang miskin di sekitar rumah kita. Makan apa mereka hari ini? Apakah anaknya bersekolah? Layakkah baju yang ia pakai?. Bantulah mereka lepas dari lingkaran kemiskinan, jangan sampai mereka mencuri karena sikap kita yang individualistis dan materialistis. Perlakukan mereka secara adil selayaknya kita memperlakukan teman dekat kita, keluarga kita, dan orang yang sederajat dengan kita. Hormati dan hargai mereka sebagaimana kita inginkan itu. Berikan barang-barang yang berguna kepada mereka, bukan barang sisa atau pun bekas yang kita sendiri enggan menggunakannya. Mereka miskin mereka manusia juga
Al Quran Surat Al Ma'un ayat 1- 7
M÷ƒuäur& Ï%©!$# Ü>Éjs3ムÉúïÏe$!$$Î/ ÇÊÈ   šÏ9ºxsù Ï%©!$# íßtƒ zOŠÏKuŠø9$# ÇËÈ   Ÿwur Ùçts 4n?tã ÏQ$yèsÛ ÈûüÅ3ó¡ÏJø9$# ÇÌÈ   ×@÷ƒuqsù šú,Íj#|ÁßJù=Ïj9 ÇÍÈ   tûïÏ%©!$# öNèd `tã öNÍkÍEŸx|¹ tbqèd$y ÇÎÈ   tûïÏ%©!$# öNèd šcrâä!#tãƒ ÇÏÈ   tbqãèuZôJtƒur tbqãã$yJø9$# ÇÐÈ  
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. Dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin.
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. Orang-orang yang berbuat riya
7. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna

Untuk harta mu, darimana kamu dapat dan kemana kamu habiskan‼